KERAJINAN TEMPURUNG KELAPA PATI

FEDEP (Forum for Economic Development and Employment Promotion) atau forum untuk pengembangan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja Kabupaten Pati, mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas pengrajin tempurung kelapa. Kegiatan tersebut berlangsung di Sentra Kerajinan Tempurung Kelapa di Desa Bulungan Kec Tayu. Pelatihan selama 4 hari yang berakhir Rabu (30/12), mengikutsertakan 20 pengrajin tangan tempurung kelapa di Kabupaten Pati. Klaster Kerajinan Tangan (Handycraft) FEDEP Pati selaku penyelenggara pelatihan, menghadirkan Instruktur yang sekaligus pelaku usaha kerajinan tempurung kelapa, mitra Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta.

Sekretaris Klaster Handycraft FEDEP Kab Pati, Ratna Septi Anggraheni, mengungkapkan, fokus pelatihan itu untuk meningkatkan kerajinan tangan tempurung kelapa di Pati yang masih lemah pada finishing atau sentuhan akhir produk yang dihasilkan.
“Kadang-kadang produk itu sudah bagus, namun ketika tiba finishing itu malah jadi hancur. Karena sebenarnya barang-barang kita itu siap jual dengan inovasi yang ada. Ya cuma masalahnya pada sentuhan akhir enggak masuk ke pasar gitu lho. Finishingnya itu masih ala kadarnya,” katanya.

Disamping itu, kata Sekretaris Klaster Kerajinan Tangan (Handycraft) FEDEP Kab Pati, Ratna Septi Anggraheni, pelatihan tersebut juga untuk mengubah pola pikir lama pengrajin tempurung di Pati, dengan keilmuan yang disampaikan instruktur yang terjun langsung sebagai pelaku usaha yang sukses di Indonesia. “Karena rerata pengrajin tangan tempurung kelapa di Pati umumnya masih menggunakan ilmu mbasang. Kalau ada order datang aku kerjakan, kalau tidak ada ya nongkrong dirumah itu yang ingin saya ubah mindset itu,” terangnya.

Instruktur Pelatihan, Wayan Suadana, seorang pelaku usaha kerajinan tempurung kelapa, yang sekaligus mitra kerja Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta mengatakan, karena peserta pelatihan rata-rata para pengrajin yang sudah jalan. Sehingga dalam 4 hari pelatihan, pihaknya memberikan tambahan keterampilan pada proses produksi kerajinan tempurung kelapa. “Proses hasil produksi para pengrajin tempurung kelapa disini masih awam. Karena faktor pendukungnya, seperti mesin, kemudian sarana prasarana yang minim. Tapi yang lebih penting lagi dibagian finishingnya sangat mereka butuhkan. Karena hasil produksinya beberapa kali pernah dipending tidak bisa masuk ke pasar,” kata Wayan Suadana.

Dari amatannya di pasaran, hasil produksi kerajianan dari Pati belum sepenuhnya dapat bersaing dengan daerah lain. Karena pengrajin Pati masih mengolahnya dalam bentuk tempurung utuh. Sementara produk dari daerah lain, bentuknya sudah diolah lebih indah dan dipakai untuk mempercantik meubeler. Pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut program nasional, dan ditetapkannya Desa Bulungan sebagai desa produktif nasional ke empat di Jawa Tengah.

sumber berita: pasfmpati.com
sumber berita: patikab.go.id
sumber ilustrasi gambar: kreator.id

Share On Social Media!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *